Siswa-siswi Sedang Menjalani Pelatihan Kader Takakura Kids

Sampah telah menjadi masalah penting yang banyak dihadapi kota besar di seluruh dunia. Salah satu penyebabnya yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan organik. Proses pemilahan sampah itu menjadi pilihan tepat untuk megurangi sampah yang tiap hari semakin banyak jumlahnya. Dengan cara itu , terutama sampah organik dapat terurai oleh bakteri dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Ada berbagai macam sistem pengolahan sampah, salah satunya melalui TAKAKURA.

Supriatun Jupri, Peraih Penghargaan Kalpataru 2008, Memberikan Pengetahuan Tentang Pengolahan Sampah

Langkah itulah yang dilakukan tim Green Education (GE) Yayasan Pendidikan Al Muslim mulai adri tingkat TK sampai SMP. Intan Larasati, S.Pd. selaku koordinator tim GE menyatakan bahwa tujuan pelaksanaan takakura ini untuk menumbuhkan kesadaran dan melatih seluruh siswa Al Muslim dalam memilah-milah sampah. Selain itu , untuk mengurangi sampah sisa-sisa makan siang dan kue yang selama ini dibuang begitu saja.

Siswa-siswi TK-SMP telah dilantik Oleh Ir. Hj. Erlina Nasution Menjadi Kader Takakura Kids

”Untuk melaksanakan program takakura ini kami telah melatih 33 siswa mulai TK sampai SMP untuk menjadi kader takakura,” ujar guru yang juga mengajar mata pelajaran SAINS di SMP Al Muslim tersebut. Nantinya, tiap kader akan diberi pin wajib dipakai tiap hari dan akan dikukuhkan dalam acara launching program TAKAKURA KIDS pada Sabtu (16/8) mulai pukul 9 pagi di Gazebo kebun. Acara yang dihadiri kader lingkungan dari Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (PUSDAKOTA) Surabaya, Klub Tunas Hijau, dan Sriatun Jupri selaku peraih penghargaan Kalpataru 2008. Pada kesempatan itu, Sriatun Jupri juga menjelaskan pada kader takakura bagaimana mengolah sampah menjadi barangyang bermanfaat lainnya. Beliau juga membawa contoh tas yang dibuat dari bekas sabun pencuci piring dan bunga dari bahan plastik.

Kader Takakura Kids Sedang Bermain Ular Tangga dari Klub Tunas Hijau Surabaya

“Kami telah menyiapkan satu set peralatan takakura yang tersebar di beberapa titik mulai dari TK sampai SMP,” tambahnya. Adanya kader-kader itu dapat menjadi tutor sebaya bagi teman-teman lainnya dan selama pelaksanaan TAKAKURA tiap kader akan didampingi oleh guru pendamping kelasnya. Nantinya, kinerja tiap kader akan dievaluasi tiap minggunya sesuai indikator penilaian dan akan mendapatkan sertifikat. 70% dari hasil TAKAKURA yang berupa pupuk kompos itu digunakan keperluan sekolah dalam mengelola kebun dan sisanya akan dijual ke masyarakat. Setelah peresmian kader takakura selesai, siswa diajak bermain ular tangga oleh perwakilan dari Klub Tunas HIjau. Dalam permainan tersebut, siswa diajak untuk mengetahui tentang permasalahan global warminng dan cara untuk mengatasi masalah tersebut.